Ikuti kami di Google News & Blogger

Nilai Luhur Sumpah Pemuda dalam Kebangkitan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Nilai luhur sumpah pemuda merupakan salah satu amanat yang terkandung didalamnya. Banyak pesan-pesan yang harus dipelajari oleh setiap masyarakat.

Nilai luhur sumpah pemuda merupakan salah satu amanat yang terkandung didalamnya. Banyak pesan-pesan yang terkandung oleh semangat kemerdekaan yang digaungkan oleh para pemuda era kemerdekaan. Upaya untuk lepas dari penjajah ada di nilai luhur sumpah pemuda.

Untuk para pelajar maupun mahasiswa, nilai luhur sumpah pemuda wajib untuk tahu dan tidak lupa akan hal ini. Maka dari itu agar selalu belajar dari semangat sumpah pemuda yang mampu memperjuangkan kemerdekaan RI dengan penuh upaya. Sebagai kaum muda, kita wajib mengetahui hal ini ya teman-teman.

nilai luhur sumpah pemuda
sumpah pemuda NKRI

Nilai Luhur Sumpah Pemuda NKRI

Sejarah Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda merupakan rangkuman dari pokok-pokok yang dibahas pada Kongres Pemuda Pertama dan Kedua se-Indonesia. Sebagai hasil dari resolusi yang dikeluarkan dalam kongres tersebut, lahirlah Sumpah Pemuda, dan semboyan "satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa" menjadi sinonim dengan Indonesia.

Dari 30 April hingga 2 Mei 1926, Jakarta menjadi tuan rumah Kongres Pemuda Pertama. Dalam kongres tersebut, mereka membahas betapa pentingnya solidaritas nasional untuk memenangkan perjuangan kemerdekaan. Kongres pemuda Indonesia kedua diadakan pada 27-28 Oktober 1928. Kongres pemuda kedua memilih Indonesia bersatu pada 28 Oktober 1928. Bangsa dan bahasa yang bersatu ini akan dikenal sebagai bahasa Indonesia. Meskipun tidak ada kata ikrar maupun sumpah pemuda dalam putusan, peristiwa tersebut kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda dan diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda karena frasa penghakiman mengandung konotasi sumpah.

a. Kongres Pemuda 1

Dimulai dengan terbentuknya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908, kaum muda berperan penting dalam pergerakan nasional. Belakangan, keanggotaan kelompok itu sangat condong ke orang tua. Akibatnya, tindakan kaum muda tercermin dalam kebutuhan mereka yang terus-menerus untuk membentengi diri. Siswa SMA dari Jawa dan Madura berkumpul pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta untuk membentuk gerakan pemuda yang dipimpin oleh orang-orang seperti dr. R. Satiman Wirjosandjojo, Kadarman, dan Sunardi. Trikoro Dharmo dipilih sebagai nama grup. Keajaiban, moralitas, dan pengabdian adalah "tiga tujuan mulia" (Trikoro Dharmo). Jabodetabek adalah tujuan organisasi ini, yang bertujuan untuk mencapai hal ini dengan menumbuhkan semangat yang lebih bersatu di antara para pemuda Jawa, Madura, Sunda, Bali, dan Lombok.

Nama Trikoro Dharmo diubah menjadi Jong Java pada konferensi yang diadakan di Solo pada 12 Juli 1918, dalam upaya membina kerukunan. Tujuannya adalah untuk mendidik anggota agar mereka dapat mengabdikan upaya mereka untuk membangun Jawa Raya di masa depan. Untuk mencapai tujuan ini, perlu untuk bekerja menuju kohesi yang lebih besar, lebih banyak pendidikan anggota, dan penanaman kasih sayang untuk budaya sendiri. Jong Java menghindari terlibat dalam masalah politik selama perjuangannya.

Banyak organisasi lain di Indonesia berutang keberadaan mereka karena pengaruh Jong Java. Diantaranya adalah Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Selebes, Timorees ver Bond, PPPI (Persatuan Pelajar Indonesia), Jong Indonesia, Jong Islamienten Bond, Pramuka, dan masih banyak lagi. Kelompok-kelompok perempuan termasuk Organisasi Perempuan Taman Siswa, Puteri Indonesia, Aisijah, dan Sarekat Perempuan Ambon ada bersama gerakan-gerakan muda.

Kebutuhan akan wadah terpadu bagi anak muda Indonesia muncul sebagai respon atas kemunculan organisasi regional ini. Upaya untuk mencapai tujuan ini dimulai pada Kongres Pemuda Pertama, yang berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei di Jakarta.

nilai luhur sumpah pemuda
nilai luhur sumpah pemuda

Agar Kongres Pemuda I berlangsung, Persatuan Indonesia harus ada terlebih dahulu. Persatuan Pelajar Indonesia (PPPI) didirikan pada tahun 1925, meskipun baru secara resmi mulai beroperasi pada tahun berikutnya, pada tahun 1926. Kelompok ini terdiri dari siswa sekolah menengah pertama dan atas dari Jakarta dan Bandung. Sugondo Djojopuspito, sigit, Abdul Sjukur, Gularso, Sumitro, Samijono, Hendromartono, Subari, Rohjani, Kunjtoro, Wilopo, Surjadi, Moh. Yamin, A.K. gani, Abu Hanifa, dan masih banyak lagi di antara tokoh-tokoh PPPI. Jurnal Indonesia Merdeka terbitan Perhimpunan Indonesia di Belanda kerap memberikan kontribusi bagi PPPI di Indonesia.

Indonesia Raya adalah terbitan PPPI sendiri, selain Indonesia Merdeka, juga diproduksi oleh PPPI di Belanda. Abu Hanifah adalah editor utama. Integritas dan kohesi, seperti yang terlihat melalui lensa PPPI, adalah ciri khas PI. Banyak penduduk muda Bandung yang ingin meninggalkan praktik budaya khas kota mereka. Pada tanggal 20 Februari 1927, nama Jong Indonesia diubah menjadi Pemuda Indonesia atas desakan Tuan Sartono dan Tuan Sunario.

Di Indonesia, Sugiono, Sunardi, Moeljadi, Soepangkat, Agus Prawiranata, Soekamso, Soelasmi, Kotjo Sungkono, dan Abdul Gani adalah pimpinan tertinggi organisasi tersebut. Sementara itu, Sugiono menjabat sebagai ketua pertama perusahaan. Kelompok muda yang dimaksud belum mengambil peran aktif dalam gerakan politik. Jenis serikat pekerja yang ideal telah dibahas untuk waktu yang lama. Pemuda Indonesia, setelah melalui banyak pertimbangan, mengadakan Kongres Pemuda dari tanggal 30 April hingga 2 Mei di Jakarta. Orang-orang tersebut di atas memainkan peran penting dalam menyelenggarakan Kongres Pemuda 1. Namun, sebelum kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928, organisasi pemuda Indonesia belum terlibat aktif dalam politik.

Salah satu tujuan dari Kongres Pemuda pertama adalah untuk membentuk sebuah badan yang mengatur kelompok-kelompok pemuda Indonesia.

Kongres Pemuda 1 bertujuan untuk:
1. Memperkuat ikatan di antara semua organisasi pemuda nasional; 
2. Mempromosikan gagasan persatuan nasional; 
3. Membentuk badan sentral organisasi pemuda Indonesia

Perwakilan dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Minahasa, dan Jong Batak, antara lain, menghadiri Kongres Pemuda pertama I. M. Tabrani, ketua panitia, menarik perhatian semua orang dalam sambutan pembukaannya oleh menekankan perlunya menemukan langkah-langkah untuk memperkuat kebanggaan nasional di kalangan anak muda. Moh. Yamin berbagi idenya tentang bahasa universal.

Dalam kuliahnya “Kemungkinan Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia” yang diberikan pada tanggal 2 Mei 1926. Menurut Yamin, bahasa Melayu dan Jawa seharusnya menjadi bahasa pemersatu di antara banyak suku bangsa Indonesia meskipun ada banyak bahasa yang digunakan di negara ini. Meski demikian, Yamin yakin bahasa Melayu pada akhirnya akan menggantikan bahasa Indonesia sebagai lingua franca negara.

Tampak jelas bahwa ide-ide unifikasi Indonesia telah diterima dan diakui oleh Kongres Pemuda pertama ini, meskipun definisi yang tepat masih sulit dipahami. Dengan kedok untuk mencapai kerukunan nasional dan tujuan bersama, PPPI, Pemuda Indonesia, Perhimpunan Indonesia, dan PNI bermaksud menggabungkan kelompok masing-masing.

Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi, Jong Islamieten Bond, Mahasiswa Minahasa, dan Pemuda Teosofis hanyalah beberapa contoh kelompok pemuda yang anggotanya sangat percaya bahwa bentuk organisasi mereka tetap khas daerah. . Seperti yang bisa dilihat, hal-hal berbeda ketika Kongres Pemuda pertama dilakukan. Seperti yang dijelaskan dalam percakapan itu, kepentingan regional tetap di depan dan di tengah. Sulitnya mencapai konsensus di Kongres ditunjukkan oleh masalah linguistik. Dan ada kecemasan regional juga, atas hal-hal seperti tradisi lokal. Faktor-faktor ini membuat sulit untuk bersatu di belakang tujuan bersama, seperti melindungi kebanggaan dan kebersamaan nasional. Karena itu, para hadirin tidak puas dan bersemangat untuk melanjutkan Kongres Pemuda berikutnya.

Ada upaya bersama untuk mencapai tujuan bersama selama Kongres Pemuda pertama, dan hasilnya menggembirakan. Mengingat bahwa ini adalah Kongres Pemuda perdana, melakukan banyak hal tetap menjadi tantangan. Kepercayaan yang kuat terhadap adat masih dipegang secara luas dan berdampak besar pada wacana sehari-hari. Moh. Tabrani, ketua Kongres, piawai menjaga kerukunan dengan cepat menemukan kompromi dalam menghadapi perbedaan budaya dan ideologi.

Begitu banyak pidato dengan judul "Indonesia Bersatu" yang diantisipasi selama kongres untuk mendorong tumbuhnya persatuan yang diperlukan untuk memenangkan kepentingan kelompok, agama, dan daerah. Ini juga memberikan penjelasan yang jelas tentang gerakan kemerdekaan Indonesia dan menekankan perlunya kaum muda belajar tentang dan menjalankan prinsip-prinsip Indonesia yang bebas.

Antara lain, berikut ini adalah hasil paling signifikan dari Kongres Pemuda pertama:
Menerima dan menganut prinsip-prinsip persatuan Indonesia (walaupun tampak samar-samar di sini) b. Mencoba menghilangkan kepercayaan tradisional dan daerah yang sudah ketinggalan zaman, dan sebagainya.

Hal ini menyebabkan pengakuan peserta bahwa ketabahan dalam memperjuangkan prinsip-prinsip kebangsaan masih menjadi tantangan. Tidak banyak anggota Perhimpunan Indonesia yang kembali ke Indonesia, dan tidak ada satupun dari mereka yang menghadiri Kongres Pemuda Indonesia yang pertama. Dengan cara ini, keinginan untuk kesatuan tetap lemah.

b. Kongres Pemuda II

Kongres Pemuda II digagas dan diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Seluruh Indonesia (PPPI), sebuah kelompok pemuda yang beranggotakan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Kongres Pemuda Dunia Kedua diadakan selama tiga hari, 27-28 Oktober. Dua pertemuan pertama diadakan di Oost Java Bioscoop di Konigsplein Noord (sekarang Jalan Medan Merdeka Utara) dan pertemuan ketiga dan terakhir diadakan di Gedung Kramat 106 Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).

Kongres Pemuda II memiliki potensi untuk mewujudkan harapan setiap warga negara Indonesia jika Kongres Pemuda pertama, yang diadakan pada bulan April 1926, kurang berhasil. Tetapi Kongres Pemuda I bukanlah kegagalan total karena ia membangun dasar yang kokoh untuk unifikasi di masa depan.

Kurang dari yang diharapkan mantan anggota Persatuan Indonesia berpartisipasi dalam Kongres Pemuda I, baik dalam memimpin dan sidang itu sendiri. Sementara itu, banyak anggota Persatuan Indonesia yang sudah pensiun berperan penting dalam perencanaan dan pelaksanaan Kongres Pemuda Kedua.

Kongres Pemuda Indonesia Kedua, juga dikenal sebagai Sumpah Pemuda, bertujuan untuk mencapai hal-hal berikut.
1. Menjadi lahan subur bagi prinsip-prinsip yang dianut oleh seluruh organisasi pemuda Indonesia,
2. mengatasi beberapa masalah yang mengganggu gerakan pemuda Indonesia. 3. menumbuhkan rasa kebanggaan nasional dan kebersamaan nasional yang lebih dalam di antara warga negara Indonesia.

Konferensi tersebut bertemu di tiga lokasi terpisah dan memiliki tiga sesi berbeda. Pada tanggal 27 Oktober 1928, konferensi perdana diadakan di tempat yang sekarang dikenal sebagai alun-alun Lapangan Banteng di lokasi Waterlooplein Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (GOC). Ketua Umum GN Sugondo Djojopuspito menyampaikan keinginannya agar konferensi ini dapat menumbuhkan rasa kebersamaan di kalangan anak muda yang hadir. Setelah itu, para pembicara memaparkan tentang pentingnya pesan Moehammad Yamin kepada generasi muda saat ini. Lima hal—sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan—dapat membantu mempersatukan Indonesia, katanya.

Silaturahim kedua, yang berpusat pada masalah pendidikan, diadakan pada hari Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Bioscoop Oost-Jawa. Baik Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro menekankan perlunya pengalaman pendidikan yang menyeluruh bagi anak-anak, dengan menekankan pentingnya lingkungan belajar formal dan informal. Pendidikan demokrasi penting bagi orang dewasa dan anak-anak. Dalam pertemuan ketiga yang diadakan di Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario berbicara tentang pentingnya kepramukaan selain membahas nilai nasionalisme dan demokrasi. Adapun Ramelan, dia mengatakan bahwa gerakan kepanduan secara intrinsik terkait dengan gerakan nasional yang lebih besar. Pendidikan dan disiplin diri sangat penting dalam perjuangan, dan gerakan kepramukaan dimulai sejak muda.

Selama kongres pemuda kedua, 15 pembicara membahas berbagai topik selama tiga pertemuan pertama. Penutur asli yang terkenal antara lain Soegondo Djojopespito, Muhammad Yamin, Siti Sundari, Poernomowoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, dan Sunario.

Baru pada tahun 1926 kaum muda mengadakan kongres pertama mereka. Para peserta kongres perdana memutuskan untuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu, dan salah satu pemimpin kunci dari pertemuan itu adalah Tabrani Soerjowitjitro. Namun saat itu, Tabrani mengaku tidak mendukung rencana Yamin mempekerjakan orang Melayu. Menurut Tabrani, kalaupun bahannya Melayu, bahasanya harus disebut bahasa Indonesia karena nusa disebut Indonesia dan negara disebut Indonesia. Dengan suara bulat, para delegasi Kongres pertama memutuskan bahwa Kongres kedua akan memilih bahasa penyatuan.

Sikap pemerintah kolonial terhadap kaum muda kembali normal setelah kongres pemuda kedua. Bahkan pejabat kolonial yang bertanggung jawab atas urusan kolonial, Van Der Plass, tidak sepenuhnya menghargai kekuatan kongres pemuda dan resolusinya. Karena beberapa pembicara di konvensi itu menggunakan bahasa Belanda dan bahasa lokal, Van Der Plass sendiri mencemooh rencana untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Meski diminta untuk memimpin jemaah, upaya Soegondo untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia justru goyah.

Salah satu pembicara kongres pemuda kedua, Siti Sundari, hanya berbicara dalam bahasa Belanda. Dr Keith Foulcher, dosen jurusan bahasa Indonesia di University of Sydney di Australia, melaporkan bahwa Siti Sundari baru mulai berbicara bahasa Indonesia dua bulan kemudian.

Namun, prediksi Van Der Plass ternyata sepenuhnya salah. Kongres secara historis telah divalidasi sebagai "api" yang menggembleng Indonesia menjadi front bersatu melawan kolonialisme.

Beberapa kelompok awalnya vokal, namun kini seiring berjalannya waktu, sudah sepantasnya bahasa Jawa, bahasa yang telah berkembang berabad-abad, dijadikan sebagai bahasa pemersatu. Bahasa Jawa diyakini memiliki perbendaharaan kata yang kaya dan makna yang luas, tetapi para pencelanya berpendapat bahwa bahasa tersebut bukanlah bahasa demokrasi, melainkan bahasa yang berakar feodal. Sementara itu, upaya akan dilakukan untuk membantu rakyat Indonesia mengembangkan pemerintahan yang lebih demokratis. Mohammad Yamin mencari nasihat dari seorang spesialis sebagai hasilnya. Bahasa orang Jawa. Menurutnya bahasa Melayu harus menggantikan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi karena memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang seperti bahasa Inggris. Akibatnya, bahasa Indonesia secara de facto menjadi bahasa internasional.

Pak Sunario, berbicara pada sesi terakhir kongres (dalam kapasitasnya sebagai utusan kepanduan), berbisik kepada Soegondo, "Saya punya rumusan yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini," dan Moehammad Yamin menuliskan rumusan itu di atas secarik kertas, yang kemudian diparaf Soegondo untuk disetujui sebelum diteruskan kepada orang lain untuk disetujui. Soegondo membacakan sumpah, sedangkan Yamin menguraikan maknanya. (AS Mohammad Noor, 1985).

Susunan Panitia Kongres Pemuda II Tahun 1928 Ketua : Sugondo Djojopuspito (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia)
Wakil Ketua : Djoko Marsiad (Jong Java)
Sekretaris : Muhammad Yamin (Jong Soematranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Muh Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : Kotjosungkono (Pemuda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : J. Leimena (Jong Ambon) Pembantu V : Rohjani (Pemuda Kaum Betawi)

Sumpah Pemuda
Poetoesan Congress Pemoeda-Pemoeda Indonesia
Kerapatan Pemoeda-pemoeda Indonesia yang diadakan oleh perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda Indonesia yang berdasarkan kebangsaan dengan namanya:Jong Java,Jong Soematra (pemuda soematra), pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemoeda kaoem Betania dan perhimpoenan peladjar-peladjar Indonesia;

Memboeka rapat pada tanggal 27 dan 28 Oktober Tahoen 1928 di negeri Djakarta;

Sesoedahnya mendengar pidato-pidato dan pembitjaraan yang diadakan dalam kerapatan tadi;

Sesoedahnya menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini;

Kerapatan laloe mengambil poetoesan:
Pertama KAMI POETRA  DAN POETRI INDONESIA MENGAKU BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA;
Kedoea KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKU BERBANGSA SATOE, BANGSA INDONESIA;
Ketiga KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN BAHASA INDONESIA.

Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloerkan kejakinan, azaz ini wajib dipakai oleh segala perkoempoelan-perkoempoelan kebangsaan Indonesia;

Mengeloearkan kejakinan, Persatoean Indonesia diperboeat dengan memperhatikan dasar persatoeannja; Kemaoean Sedjarah Bahasa Hoekoem adat Pendidikan dan Kepandoean

Dan mengeloearkan penghargaan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan di moeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan kita.

Dalam Kongres Pemuda Kedua yang bersejarah itu, lagu kebangsaan Indonesia W.R. Soepratman untuk pertama kalinya dinyanyikan. Pada tahun 1928, surat kabar Sin Po menerbitkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya, bersama dengan kata-kata yang menyatakan lagu tersebut sebagai lagu kebangsaan. Kaum muda di Hindia Belanda terus menyanyikan lagu itu setelah dilarang oleh penguasa kolonial.

Berdasarkan dokumen di atas, Kongres Pemuda II yang digagas Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) dan berlangsung 27 - 28 Oktober 1928 menghasilkan suatu Poetoesan Congress Pemoeda-Pemoeda. Kemudian oleh Muhammad Yamin, kata Poetoesan Congress Pemoeda-Pemoeda Indonesia diganti dengan Soempah Pemoeda. Sampai saat ini penggunaan istilah Sumpah Pemuda diterima oleh semua pihak karena memang isi dari putusan pemuda dalam Kongres Pemuda II tahun 1928 tersebut mengandung pernyataan yang berisi ikrar satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yakni Indonesia.

Nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda Bangsa Indonesia


Apa saja Nilai-nilai Luhur dalam Sumpah Pemuda? Isi putusan Kongres Pemuda II merupakan manifestasi persatuan pemuda Indonesia. Kongres itu dihadiri oleh sekitar 750 orang dari Sembilan organisasi pemuda dan oleh sejumlah tokoh politik seperti, Soekarno, Sartono dan Sunario. Kongres ini merupakan puncak Integrasi ideologi nasional  dan merupakan peristiwa nasional yang belum pernah terjadi pada masa itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa Kongres itu membawa semangat nasionalisme ke tingkat yang lebih tinggi hal itu di sebabkan isi putusan seperti terdapat dalam kalimat:“kerapatan mengeloerkan kejakinan, azaz ini wajib dipakai oleh segala perkoempoelan-perkoempoelan kebangsaan Indonesia” dan pada kalimat “dan mengeloearkan penghargaan soepaja poetoesan ini  ………. dibatjakan di moeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan kita” menjadi landasan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan.

Arti penting Sumpah Pemuda bagi bangsa Indonesia terletak pada deklarasi nilai solidaritas dalam memperjuangkan kemerdekaan. Salah satu titik balik utama Indonesia adalah diadopsinya Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda Kedua. Inti gagasan Sumpah Pemuda adalah penegasan Indonesia sebagai satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa. Ketiga aspek ini semuanya memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keadaan bangsa kita.

Fakta bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 pemuda Indonesia mendeklarasikan satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia, merupakan kebenaran sejarah penting yang menambah makna dan semangat Sumpah Pemuda. Deklarasi ini merupakan perwujudan dari kemauan dan semangat rakyat yang melawan penguasa kolonial pada saat itu. Di bawah kendali penjajah yang menindas, kaum muda Indonesia diilhami untuk bersatu demi tujuan bersama meningkatkan taraf hidup negara mereka. Tujuh belas tahun kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia menggunakan tekad ini sebagai dasar perjuangan mereka untuk kemerdekaan.

Sumpah Pemuda ditulis oleh kaum muda, sesuai dengan namanya. Dalam upaya mereka agar isi SK tersebut menjadi landasan bagi seluruh bangsa Indonesia, kita dapat melihat semangat mereka untuk negara dan bahasa Indonesia yang bersatu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah mengilhami patriotisme yang kuat dalam diri mereka. Sekarang ada upaya terkoordinasi di pihak kaum muda.

Sadarilah bahwa Sumpah Pemuda tidak muncul dalam semalam. Anak-anak muda memutuskan untuk berkumpul karena beberapa alasan. Orang-orang muda di Indonesia telah menyadari bahwa pertempuran di antara mereka sendiri tidak akan membantu mereka mencapai kemerdekaan untuk negara mereka. Semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar Sumpah Pemuda, mencakup gagasan untuk bekerja sama menuju tujuan bersama. 

Setelah Konferensi Pemuda di Solo pada tanggal 31 Desember 1930, semangat dan tekad unifikasi ini terwujud sebagai "Moeda Indonesia". Hasil ini menunjukkan bahwa generasi muda kita mendahulukan persatuan dan kepentingan nasional di atas dirinya sendiri atau kelompoknya atau daerahnya. Kehadiran Moeda Indonesia, dengan demikian, merupakan cikal bakal inisiatif sejati untuk menjaga integritas dan kohesi nasional. Kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945, merupakan puncak dari efek semangat kebersamaan.

Gambar di atas menunjukkan bahwa sumpah pemuda adalah versi ringkas dari Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti bahwa meskipun pemuda-pemuda ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan berasal dari kelompok etnis, agama, ras, dan bahasa yang berbeda, mereka semua setuju. bahwa Indonesia adalah rumah mereka yang sebenarnya. Berbeda tapi saling berhubungan.

Bung Karno menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antarbangsa yang abadi. "Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir," kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta, 28 Oktober 1963.

Implementasi Nilai Luhur dan Semangat Sumpah Pemuda

Dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika, pentingnya dan semangat Sumpah Pemuda terletak pada kenyataan bahwa para penandatangannya dapat mengesampingkan perbedaan mereka untuk bekerja bersama demi tujuan bersama: kemerdekaan negara Indonesia.

Dengan memasukkan prinsip Sumpah Pemuda ke dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika yang lebih besar, organisasi seperti:
1. Pemuda Indonesia dan seluruh lapisan masyarakat harus bekerja sama untuk memajukan negara.
2. Kedua, kaum muda dan seluruh Indonesia harus melihat banyak praktik budaya negara ini bukan sebagai sumber perpecahan tetapi sebagai peluang untuk berkembang.
3. Ketiga, pemuda Indonesia bersama-sama dengan penduduk lainnya menciptakan Pancasila yang menjadi dasar negara dan mengandung prinsip persatuan Indonesia.
4. Partisipasi dalam mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan kegiatan yang konstruktif merupakan tanda kebanggaan bangsa. 4.
5. Kelima, pemuda Indonesia, bersama dengan penduduk lainnya, harus mendahulukan kepentingan negara dan negara di atas segala pertimbangan lainnya.
6. Untuk belajar peduli terhadap sikap dan tindakan kita terhadap orang tua, keluarga, dan lingkungan, generasi muda dan seluruh rakyat Indonesia harus terlebih dahulu belajar untuk peduli terhadap diri sendiri.

Tentu saja masih banyak contoh keyakinan dan semangat Sumpah Pemuda yang dipraktikkan di dalam Bhinneka Tunggal Ika. Saya ingin Anda menggali! Prinsip dan cita-cita Sumpah Pemuda dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi peta jalan untuk menyatukan kembali negara ini. Pelajar sebagai generasi muda dan masa depan bangsa memiliki tanggung jawab khusus untuk memanfaatkan kebebasannya dengan cara antara lain berusaha untuk belajar, mematuhi peraturan, menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain, dan menghormati adat istiadat dasar sosial.

Selain itu, makna dan semangat Sumpah Pemuda masa kini, khususnya bagi mahasiswa, harus mampu membentuk sikap mandiri, tidak bergantung pada keadaan saat ini atau menunggu perhatian orang lain. Demi memastikan bahwa generasi penerus selalu siap untuk beradaptasi dengan keadaan yang berubah dengan berpikir di luar kotak dan memanfaatkan sumber daya yang ada.

Soal-soal Nilai Luhur Sumpah Pemuda

a. Sebutkan nilai-nilai sumpah pemuda dalam kehidupan sehari hari!

Jawaban : Nilai-nilai sumpah pemuda dalam kehidupan sehari hari yaitu Semangat belajar dan menuntut ilmu dalam sekolah, menghormati Bapak dan Ibu Guru serta Orang Tua, tidak melakukan tindakan tercela seperti berbohong dan menjadi pelajar yang nakal.

c. Sebutkan 3 nilai sumpah pemuda!

Jawaban : 3 nilai sumpah pemuda yaitu solidaritas dalam memperjuangkan kemerdekaan, bersatu melawan penjajahan, dan memperjuangkan kemerdekaan melalui peran organisasi.

d. Sebutkan Nilai luhur Sumpah Pemuda yang dapat dijadikan contoh oleh generasi muda!

Jawaban : Nilai luhur Sumpah Pemuda yang dapat dijadikan contoh oleh generasi muda yaitu 1. Pemuda Indonesia dan seluruh lapisan masyarakat harus bekerja sama untuk memajukan negara.
2. Kedua, kaum muda dan seluruh Indonesia harus melihat banyak praktik budaya negara ini bukan sebagai sumber perpecahan tetapi sebagai peluang untuk berkembang.
3. Ketiga, pemuda Indonesia bersama-sama dengan penduduk lainnya menciptakan Pancasila yang menjadi dasar negara dan mengandung prinsip persatuan Indonesia.
4. Partisipasi dalam mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan kegiatan yang konstruktif merupakan tanda kebanggaan bangsa. 

Blogger, Youtuber, Bussinesman

Posting Komentar

close