Ikuti kami di Google News & Blogger

Sejarah Pabrik Gula Cepiring Kendal Jawa Tengah

Pabrik Gula Cepiring merupakan salah satu industri gula nasional yang berlokasi di Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Bagi masyarakat Kendal, ikon salah satu kota Kendal ini sudah tidaklah asing lagi karena banyak kisah dan sejarah dari masa lampau. Banyak sejarah yang terkandung di dalamnya, karena pabrik gula cepiring merupakan salah satu pabrik gula tertua yang dimiliki di Indonesia.

sejarah pabrik gula cepiring

Sejarah Pabrik Gula Cepiring Kendal

Pabrik Gula Cepiring beroperasi memproduksi gula di Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah sejak sekitar tahun 1835. Selama masa agresi militer Belanda II diambil alih oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1954, sempat mengalami buka tutup karena krisis ekonomi atau dijadikan markas militer Indonesia.

Awal mula berdiri pabrik ini, dikelola oleh Belanda yang nantinya gula yang dihasilkan akan diekspor ke negeri kincir angin tersebut serta dijual dalam pasar Eropa pada masa lampau.

Saat ini Pabrik Gula Cepiring dikelola oleh PT Industri Gula Nusantara (IGN) dan aktif memproduksi gula sampai saat ini artikel yang penulis tulis.

Perusahaan ini merupakan joint venture antara badan swasta dengan BUMN. Porsi kepemelikikannya yaitu PT Multi Manis Mandiri (MMM) berkisar 64% kepemilikan saham sedangkan PT Perkebunan Nusantara IX (PTPN IX) sebagai pemegang saham minoritas sebesar 36% saham.

Sempat berhenti operasional akibat kesulitan bahan baku yaitu tebu, mengakibatkan salah satu pabrik gula tertua di Indonesia ini mengalami buka tutup buka tutup dari waktu ke waktu serta mengakibatkan utang gagal bayar kepada kreditur. Hingga puncaknya pada tanggal 9 Oktober 2017 silam, Pengadilan Niaga Semarang melakukan ketok palu dan memutuskan penundaan kewajiban pembayaran utang sementara.

Penetapan ini setelah adanya salah satu kreditur merasa ragu akan kemampuan perusahaan dalam membayar utangnya, serta meminta pengadilan agar mampu menengahi pemenuhan hak yang harus diperoleh.

Dalam literatur rujukan yang penulis miliki, pabrik ini memiliki permasalahan pengelolaan lahan akan kebutuhan penanaman tebu. Perusahaan mempunyai luas tanah 1.300 yang dapat ditanami tanaman tebu, namun idealnya mencapai 4.000-4.500 hektare. Akibatnya perusahaan mengalami kesulitan memenuhi bahan baku produksi.

Pada tahun 1998 pabrik ini juga mengalami tutup operasional karena kesulitan bahan baku. Setelah berhenti beroperasi selama 10 tahun akhirnya pada tahun 2008, pabrik ini mulai menggandeng swasta dan beroperasi kembali. Namun karena produktivitas yang terlampau kecil serta tidak mendapatkan keuntungan yang ideal, perusahaan ini kembali tutup pada tahun 2016 serta melakukan pemberhentian tenaga kerja sebanyak 360 karyawan.

Namun pada tahun 2017, mencuat kabar bahwa akan ada investor masuk. Saat pertengahan tahun 2018 barulah Pabrik Gula Cepiring mulai dioperasikan kembali hingga sampai saat ini artikel ini dibuat oleh Rifyu.com

Admin

Posting Komentar

close